Profil

BERHIJRAH PIKUL AMANAH

hijrah

Perubahan status STAIN Pontianak menjadi IAIN Pontianak tentu akan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat, tidak terkecuali bagi civitas akademika. Bagi pembaca Suluh tentu ingin mengetahui lebih jauh sosok orang nomor satu di IAIN Pontianak, berikut hasil wawancaranya bersama Dian Kartika Sari.

Tak ada yang menyangka pria kelahiran Simangambat, Medan, ini akan menjadi seorang tokoh di Kalimantan Barat. Jauh-jauh dari Medan, Sumatera Utara, Hamka Siregar memulai proses hijrah ke tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta.

Setelah menamatkan pendidikan di sekolah menengah, pria kelahiran 20 Agustus 50 tahun silam ini memutuskan untuk meneruskan studi strata 1 Jurusan Syari’ah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hamka tidak lantas menjadi mahasiswa yang hanya menghabiskan waktu dengan dunia perkuliahan.

Ia juga aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Beberapa tahun menghabiskan waktu di Yogyakarta, Hamka kembali memutuskan untuk berhijrah, kali ini ke pulau Kalimantan. Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah di Pontianak menjadi destinasinya.

Perguruan tinggi yang masih menginduk pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menjadi tempat pria berdarah Batak ini memulai ekspansi untuk menebar ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Memulai jenjang karir sebagai dosen.

Pria yang gemar bermain tenis lapangan ini terus berusaha untuk mengembangkan institusi tempatnya berkarir, hingga pada tahun 1997, Fakultas Tarbiyah cabang IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta berubah menjadi STAIN Pontianak dan menjadi satu-satunya perguruan tinggi Islam negeri di Kalimantan Barat.

Aktif menghidupkan forum-forum ilmiah di lingkungan STAIN Pontianak, Hamka menelurkan banyak karya. Diantaranya adalah buku-buku yang diterbitkan STAIN Press: Metode Hukum dan Pemikiran Tokoh Lintas Zaman (2011), Pernikahan Endogami: Titik Temu Agama dan Budaya (2011) – merupakan pengembangan disertasi program doktoral beliau – dan Replika Grameen Bank (Metode Pengentasan Kemiskinan Kaum Perempuan di Kubu Raya) (2012) – yang ditulis bersama Dr. Syarif, MA dan Rasiam, MA.

Beberapa tulisan yang merupakan buah pemikirannya juga dimuat di media surat kabar, jurnal dan media lainnya. Dia merupakan sosok yang memiliki pengaruh di dalam dan di luar kampus. Bisa dibilang seorang akademisi yang produktif dan pemimpin yang visioner.

Oleh karena itu, tak heran bila kemudian pria yang meraih gelar master dan doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu dipercaya menjadi Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan selama dua periode.

Selanjutnya, dia juga dipercaya menjadi sekretaris Forum Rektor PTAIN se-Indonesia, terpilih menjadi Ketua Tim Seleksi KPU Kalbar tahun 2013, dan aktif di beberapa organisasi keagamaan dan kemasyarakatan seperti Korps Alumni HMI (KAHMI) dan Muhammadiyah.

Hidup telah menempanya untuk menjadi manusia yang lebih baik, pada puncak karirnya, Hamka Siregar didaulat menjadi pimpinan tertinggi di STAIN Pontianak untuk periode 2010-2014. Selama periode tersebut, ia terus berjuang untuk menjadikan STAIN Pontianak sebagai kiblat kajian-kajian sosial keagamaan dan budaya di Kalimantan Barat.

Pengembangan program-program studi terus dilakukan, peningkatan sumber daya manusia dan tenaga kependidikan dimaksimalkan, serta program-program pemberdayaan di masyarakat dioptimalkan dengan baik.

Hasilnya, pada 1 April 2014, setelah melalui proses dan dinamika yang panjang STAIN Pontianak resmi beralih status menjadi IAIN Pontianak, dan kemudian pada 30 April 2014, Dr. H. Hamka Siregar, M. Ag, diamanahi jabatan sebagai Rektor IAIN Pontianak periode 2014-2018. Sebuah amanah yang berasal dari proses hijrah yang panjang.

Visinya setelah dilantik sebagai Rektor, adalah meningkatkan mutu pendidikan dan mengembangkan cabang keilmuan yang ada di IAIN Pontianak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *